Anda suka memelihara ular? atau malah anda takut ular? taukah bisa ular bisa bermanfaat untuk ilmu kesehatan? artikel kali ini akan membahas potensi bisa ular untuk perkembangan ilmu kesehatan / kedokteran.

Potensi Bisa Ular dalam Ilmu Kesehatan.

Venom yang lazim kita kenal dengan istilah bisa, adalah tipe racun hewan yang dialirkan melalui injeksi baik berupa gigitan atau sengatan. Salah satu jenis bisa yang menjadi suatu momok menakutkan bagi manusia adalah bisa ular. Namun, ternyata bisa ular dapat memberikan manfaat yang besar dalam kehidupan manusia, salah satunya adalah manfaat dari dunia kesehatan.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa bisa ular sitotoksik yang menyebabkan kerusakan sel, jaringan bahkan mengakibatkan kematian pada korban gigitan ular, ternyata memiliki potensi sebagai agen antitumor. Potensi bisa ular untuk kesehatan.

Bagi dunia kesehatan, tumor adalah penyakit yang hingga kini masih memerlukan riset untuk penyembuhannya. Tumor sendiri adalah suatu massa jaringan abnormal yang tumbuh akibat gangguan pada sel. Salah satu jenis tumor yang terkenal adalah tumor malignant, tumor ini adalah jenis tumor ganas yang berkemampuan metastasis.

Kemampuan tersebut dapat membuat sel-sel abnormal kanker menyebar dan mengincasi jaringan-jaringan tubuh sehat di sekitarnya. Karakteristik kanker adalah terjadinya multiplikasi sel-sel aberan yang tak terkendali dan tidak lagi memiliki kemampuan apoptosis yaitu mekanisme alami kematian sel dalam tubuh yang terkontrol untuk membuang sel yang tidak diperlukan oleh tubuh.

Berbagai riset telah dilakukan untuk menentukan faktor-faktor promotor terjadinya kanker, diantaranya adalah faktor genetik yang mengakibatkan individu mengalami kelainan dalam sinyaling sel, homeostasis, dan metabolisme pada tingkat seluler.

Menurut International Agency for Research on Cancer (IARC) sebuah badan penelitian yang mengkhususkan pada penelitian tentang kanker, pada tahun 2008 terdapat 12.7 juta kasus kanker dan diperkirakan tren terjadinya kanker lebih dari 10 juta kasus kanker setiap tahun di seluruh dunia akan terus berlangsung.

Terlebih lagi, World Health Organisation (WHO) menambahkan bahwa diprediksi jumlah kasus kematian akibat tumor ganas dan kanker pada tahun 2030 akan mencapai 13.1 juta. Menyikapi angka ini, diperlukan suatu teroboson inovasi dalam ilmu kesehatan untuk mencegahnya terjadi.

Bisa ular merupakan merupakan sekresi yang terdiri dari berbagai macam beberapa enzim protein yang mampu memberi efek tertentu pada korban gigitan, tergantung pada jenis racunnya. Bisa ular dihasilkan dari kelenjar yang terdapat di atas rahang yang digunakan beberapa kelompok ular untuk melumpuhkan mangsa dan melindungi diri dari predator maupun makhluk yang berpotensi membahayakan dirinya termasuk manusia.

Ketika ular melakukan gigitan, bisa dipompa dari kelenjar bisa dan diinjeksikan ke dalam tubuh hewan lain atau manusia korban gigitan. Atas dasar kemampuannya dalam menyebabkan kerusakan tersebut, agen sitotoksik yang terdapat dalam bisa ular diduga memiliki potensi sebagai obat untuk penyembuhan tumor kanker. Sayangnya hingga kini belum banyak riset yang berhasil menggali potensi luar biasa bagi perkembangan dunia medis.

Potensi Bisa Ular : Efek Enzim Bisa Ular Sitotoksik Dalam Melawan Kanker

Beberapa riset yang telah dilakukan telah mempelajari efek bisa ular khususnya pengaruh enzim-enzim yang terkandung di dalamnya terhadap kultur sel kanker. Enzim-enzim yang berhasil diisolasi meliputi metalloprotease, disintegrins, L-amino acid oxidase (LAAO), C-type lectin, dan fosfolipase A2. Uji in vivo menunjukkan adanya aktivitas antineoplastik (menghambat atau membunuh) penyebaran tumor pada mencit dan juga jaringan tumor manusia, baik bisa mentah dan enzim yang diisolasi dari bisa tersebut keduanya menunjukkan aktivitas antitumor dengan respon klinis yang cukup signifikan.

Mekanisme kerja enzim bisa yang terjadi adalah aksi toksik langsung, generasi radikal bebas, induksi apoptosis sel, dan antiangiogenesis pada kultur sel kanker. Potensi Bisa Ular : Aktivitas sitotoksik pada sel-sel kanker ditemukan lebih tinggi dibandingkan dengan sel-sel normal ketika terpapar oleh enzim-enzim bisa ular, artinya bisa ular dalam merusak jaringan bekerja lebih efektif pada sel kanker.

Riset lain dilakukan oleh Suhr dan Kim pada tahun 1996 untuk menguji efek pemaparan salah satu enzim sitotoksik, yaitu L-amino acid oxidase (LAAO), yang diekstrak dari ular Viper Siberia (Agkistrodon halys) pada kultur kanker mencit. Hasil percobaan tersebut menunjukkan bahwa enzim LAAO dapat menginduksi apoptosis pada sel kanker mencit, bahkan yang menggembirakan adalah keberhasilan terjadi juga pada percobaan dengan konsentrasi LAAO rendah.

Enzim tersebut mengikat permukaan sel dan memicu akumulasi dan peningkatan konsentrasi H2O2 atau hidrogen peroksida, suatu agen peroksida yang bisa menghancurkan sel dalam konsentrasi tinggi dengan cara merusak molekul-molekul komponen sel seperti lipid pada membran sel dan DNA via reaksi oksidatif, pada sel-sel tumor dan mengeliminasinya.

Riset lain yang dilakukan oleh Anh dan rekan-rekan pada tahun 1997 menguji pengaruh LAAO yang diperoleh dari bisa King Cobra (Ophiophagus hannah) pada kultur sel tumor manusia dan tikus. Hasil yang dieroleh adalah hingga 74% proliferasi (reproduksi sel) tumor dapat diinhibisi atau ditekan. Sebuah riset yang lebih terkini pada tahun 2012 oleh Ahn et al. mendukung penemuan tersebut berdasarkan hasil yang menunjukkan bahwa pemaparan LAAO bisa King Cobra dapat menginduksi penurunan proliferasi sel kanker.

Markland, peneliti dari School of Medicine, University of California pada tahun 1998 juga mengkonfirmasi bahwa LAAO memiliki kemampuan mencegah adhesi atau penempelan sel tumor serta mencegah terjadinya metastasis via inhibisi yang disebabkan oleh terjadinya agregasi trombosit dan terutama aktivasi sel-sel fagosit dari sistem imun penderita.

Sel-sel fagosit sendiri adalah sel-sel yang memiliki peran mengeliminasi sel-sel abnormal dan patogen dengan cara menelan dan mendegradasi strukturnya, sehingga berkembangnya aktivitas sel fagosit akan membantu pasien untuk menghabisi sel kanker yang muncul.

Secara ringkas hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa bisa ular sitotoksik yang tersusun atas berbagai senyawa protein, selain bisa merusak sel-sel kanker melalui reaksi oksidatif oleh enzim LAAO dan hidrogen peroksida yang mengakibatkan apoptosis atau kematian sel kanker, enzim dalam bisa ular juga dapat menekan pertumbuhan dan invasi sel-sel kanker pada sel-sel sehat dengan mengaktivasi sistem imun pada tubuh manusia.

Berbagai temuan tersebut membuka peluang potensi pemanfaatan bisa ular untuk kebutuhan medis. Dunia memerlukan percepatan temuan dalam riset pengobatan kanker, sehingga mungkin saat ini kemanfaatan ular jika masih dianggap sebagai suatu imajinasi sehingga belum banyak mendapat perhatian, tetapi ke depan perlu adanya serangkaian riset yang komprehensif dari berbagai bidang untuk menggali kebenaran yang belum terungkap tentang bisa ular dan berbagai komponennya, tentunya agar semuanya bisa menjadi suatu keniscayaan.

Suatu evolusi besar kemanfaatan bisa ular dalam pengobatan kanker diperlukan dengan kepastian efikasi dan keamanan penerapan yang terukur dengan baik, dan ini tentunya menjadi cahaya harapan jutaan penderita kanker di dunia.

——————-

Rizal Ananda Sugianto

_____________________

Search Term : Potensi Bisa Ular untuk kesehatan

Tinggalkan Balasan

Close Menu
WhatsApp chat WhatsApp kami